Presma UMMAT Angkat Bicara Terkait Mahasiswa yang Ditahan

Mataram, suarakritis.net – Melihat berbagai media yang mencuat dengan narasi yang sangat tidak tepat bahkan melanggar kode etik jurnalistik, maka sangat perlu saya tanggapi sebagai bentuk informasi dan sikap lembaga dalam kasus mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mataram atau disebut juga UMMAT, yang di tahan bahkan sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Pada aksi demonstrasi internal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kamis, 08 September 2022 didepan kantor DPRD Provinsi NTB terjadi penangkapan mahasiswa UMMAT yang membawa Sajam (Senjata Tajam) dan melanggar UU No. 12 tahun 1951 tentang darurat Sajam.

Ini aksi internal IMM, aksi massa ideologis yang tentunya massa aksi sesungguhnya di internal dan kami dari lembaga BEM UMMAT tidak menyerukan untuk bergabung.

“Karena takut hal yang tidak di inginkan terjadi, lebih-lebih kami belum membicarakan lebih jauh dengan pimpinan UMMAT,” tambah Afrizal Presiden mahasiswa (PRESMA) atau Ketua BEM UMMAT.

Namun melihat kondisi di lapangan terjadi penangkapan mahasiswa berinisial I.

“Kami dari BEM, DPM UMMAT dan IMM mulai dari itu selalu berkordinasi untuk langkah yang di tempuh dalam menyelesaikan masalah ini, sangat tidak di benarkan jika kami di anggap lepas tangan,” ungkap Afrizal

Dalam hal ini, “Saya akan sedikit menguraikan terkait langkah dan waktu kami untuk mengupayakan ada solusi terbaik dalam kasus ini,” lanjutnya.

Pada Sabtu, 10 September 2022 kami dari BEM, DPM UMMAT dan IMM berkunjung ke Polres Mataram, bahkan ketemu langsung dengan penyidik kasus tersebut. Serta di temani beberapa APH lain, poinnya membicarakan hal tersebut.

Selasa, 13 September 2022 kami langsung bertemu Kombes Pol Mustofa Kapolresta Mataram, membicarakan terkait langkah hukum yang perlu untuk dilakukan agar saudara I dapat segera bisa melanjutkan kuliah sekaligus kami berkunjung dengan saudara I di ruang Satuan Perawatan Tahanan dan Barang Bukti (Sat Tahti).

Baca juga:  Mahasiswa KKN Tematik Unram Gelar Rapat Serap Pendapat bersama 5 Organisasi Kepemudaan Desa Anggraksa

Pada Rabu, 14 September 2022 pihak keluarga bertemu dengan kampus untuk membicarakan hal demikian dan menyepakati pihak keluarga yang mengajukan penangguhan.

Dari pagi sampai siang, “Kami mendampingi pihak keluarga untuk pengajuan Permohonan penangguhan tersebut. Dan berbagai waktu lainnya kami beriktihar penuh dalam masalah ini,” ungkap Afrizal.

BEM, DPM UMMAT dan IMM Alhamdulillah telah beriktihar penuh dan berkunjung sampai 4 kali di Polres Mataram.

“Saya sebagai PRESMA UMMAT tidak lagi melihat saudara I, hadir sebagai massa aksi yang bukan dari aksi BEM atau lainnya tapi saya memandang dia sebagai mahasiswa yang berjuang untuk rakyat maka wajib kami berikhtiar sebisa kami demi yang terbaik untuk saudara I,” terangnya.

Sangat di sayangkan media yang menyebarkan informasi bahwa rekan aksi tidak berkunjung atau menjenguk padahal kenyataannya tidak sesuai mestinya dalam etika jurnalistik mesti menanyakan juga pada pihak rekan aksi (lembaga yang aksi).

Pimpinan UMMAT dengan pihak keluarganya sudah menyepakati terkait dengan langkah penyelesaian Masalah demikian bukan pimpinan UMMAT tidak bertanggungjawab, bahkan saya sendiri yang mendampingi pihak keluarga untuk mengikuti saran dari APH terkait langkah penangguhan.

“Sekali lagi pimpinan UMMAT, BEM dan DPM UMMAT serta IMM tidak pernah berdiam diri dalam kasus ini apalagi tidak menjenguk sama sekali,” pungkas Afrizal.

AR-LT / Red.

Tags: , ,