Pelaku Industri Mebel Jepara, Ajak Stakeholder Bersinergi Hadapi Krisis

Jepara, SuaraKritis.net – Dampak yang disebabkan krisis global akibat perang di Eropa, ternyata sudah dirasakan juga oleh masyarakat kita, terutama para pelaku industri mebel di Jepara. Pengiriman ekspor selama satu semester terakhir mengalami penurunan drastis. Saat ini bahkan hampir tidak ada PO (order pembelian) baru terutama dari pasar Eropa dan Amerika. Demikian halnya pasar domestik juga turun sampai kisaran 40-50 persen. Kondisi ini masih bisa berlanjut dalam rentang periode yang cukup lama, karena belum ada tanda-tanda konflik yang berujung saling embargo di Eropa, akan berakhir kapan.

Kengerian atas kondisi ini, ditambah dengan perhatian dan kerjasama dari stakeholder yang lain yang dirasa masih belum maksimal, maka digelarlah acara Jagong Bareng oleh HIMKI (Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia) Jepara Raya, dengan tema sangat menarik “Quo Vadis Pelaku Industri Mebel Jepara di tengah Krisis Ekonomi Global”. Jelas A. Lukman Arief selaku ketua panitia.

Beberapa pimpinan DPRD Jepara, saat hadir di Enjang Coffee bersama HIMKI DPD Jepara Raya, Rabu 28/9/2022.

Sementara itu Sekretaris HIMKI Jepara Yuli Kusdiyanto menuturkan acara ini terselenggara pada Rabu malam (28/09/2022) di sebuah cafe di Enjang Coffee dan dihadiri oleh 3 Wakil Ketua DPRD Jepara masing-masing Junarso, Pratikno dan Nuruddin Amin (Gus Nung), anggota Komisi B DPRD Jepara Chairul Anwar, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Eriza, Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Tenaga Kerja Samiadji, Presidium DPP HIMKI Maskur Zaenuri, serta jajaran Pembina, Penasehat, Pengurus dan Anggota HIMKI Jepara. Hadir pula Anggota Komisi B DPRD Jawa Tengah Andang Wahyu Trianto, Ketua Apindo Jepara Syamsul Anwar, dan perwakilan dari Exim Bank Romi. Berjalannya acara yang dikemas santai tapi serius ini, dipandu oleh moderator flamboyan Abdul Kholiq.

Memantik diskusi yang berjalan sangat menarik, Kholiq menyampaikan paparan di awal bahwa kondisi badai krisis ekonomi global yang terjadi saat ini, benar-benar berpengaruh pada kondisi perekonomian masyarakat Jepara yang notabene sekitar 60 persen terkait dengan keberadaan industri mebel. “Ada perusahaan yang sudah menerapkan shift kerja, bahkan banyak yang sudah meliburkan karyawannya, ada yang sejak Mei tidak menerima PO sama sekali, setiap hari begitu banyak orang datang melamar kerja karena diliburkan oleh perusahaan asalnya, pasar dan pusat belanja sepi, dan masyarakat harus mengencangkan ikat pinggang. Untuk itu sangat dibutuhkan aksi-aksi taktis dan inovatif, yang harus dilaksanakan secara sinergis dari semua stakeholder,” info Kholiq.

Pada kesempatan selanjutnya, Ajar Tri mewakili perusahaan forwarder yang ada di Jepara, menyampaikan data bahwa penurunan jumlah shipment secara rata-rata mencapai 50 persen bahkan lebih. “Agak ironis karena disaat tarif shipment sudah turun mendekati angka normal sebelum pandemi, justru volume pengiriman sangat minim,” ujar Ajar Tri.

Maskur Zaenuri, salah satu Presidium HIMKI, yang baru saja melakukan lawatan 3 pekan dari dataran Eropa, menyampaikan kesaksian bahwa yang terjadi di negara-negara Eropa, tidak ada lagi kemampuan untuk mengalokasikan uangnya untuk membeli perabot di tengah inflasi yang membubung. “Bahkan untuk kebutuhan listrik dan gas saja, nilai yang dikeluarkan saat ini di rata-rata rumah tangga disana adalah sekitar USD 700 USD (kisaran Rp 10 juta rupiah ) sebulan, naik 4 kali lipat dari sebelumnya,” terangnya.

Baca juga:  Gus Itok: Paguyuban Nelayan Jepara Siap Berperan Membantu Nelayan

Maskur juga menyampaikan kritik kepada eksekutif soal Perda Mebel No. 2 Tahun 2014 yang sudah ‘mangkrak‘ selama 8 tahun, dan tidak dibuatkan peraturan teknis dibawahnya dalam bentuk Perbub atau sejenisnya. Dia juga mempertanyakan tentang ketidakseriusan para pemangku kebijakan terkait perihal bantuan DAK sejumlah puluhan milyar dari Kementerian Perindustrian untuk terwujudnya Material Centre Kayu di Jepara.

Permasalahan utama lain yang mengemuka adalah ‘keberpihakan’ dari pemangku kebijakan untuk memberikan fasilitasi promosi yang justru dari tahun ke tahun semakin menurun.

“Sekian tahun lalu anggaran untuk fasilitasi promosi mencapai angka 500 juta, tapi menurun terus sampai ke hanya angka 80 juta di tahun 2022 ini. Ini kan sangat menjadi ironi, bahkan dalam kunjungannya ke stand Jepara di IFEX, yang menjadi satu-satunya pameran furniture berskala global, teman-teman di Dewan merasa malu untuk melihat stand Jepara yang notabene adalah pusat furniture nya Indonesia bahkan dunia,” papar seorang peserta.

Menjawab berbagai permasalahan yang disampaikan oleh peserta diskusi, baik pihak legislatif maupun eksekutif, sampai pada kesamaan pemahaman bahwa memang diperlukan langkah-langkah taktis dan strategis secara bersama-sama, untuk memberikan solusi atas semua permasalahan yang terjadi.

Mereka bersepakat bahwa Perda Mebel No. 2 Tahun 2014 harus segera dibuat aturan turunannya. Kedua, bahwa proporsi anggaran untuk promosi produk furniture harus ditingkatkan secara signifikan. Ketiga, pemberian fasilitas Material Centre Kayu dari DAK Kementerian Perindustrian akan segera dikaji lagi untuk segera bisa direalisasikan. Dan keempat, bersama-sama untuk mengupayakan pasar alternatif di luar Amerika dan Negara-negara Eropa yang selama ini menjadi destinasi ekspor utama.

“Kami siap membantu mengawal apapun yang menjadi aspirasi dari teman-teman pengusaha mebel, karena sektor ini adalah yang memberikan sumbangsih paling signifikan bagi perekonomian masyarakat Jepara”, begitu kira-kira yang menjadi benang merah dari semua yang disampaikan oleh perwakilan legislatif baik dari DPRD Jepara dan DPRD Propinsi.

“Kamipun siap untuk melaksanakan apa yang menjadi masukan dari teman-teman HIMKI dan juga arahan dari teman-teman di Dewan” ungkap Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

Pada saat yang berurutan Kepala Dinas Koperasi UMKM dan Tenaga Kerja juga menambahkan,” Kami juga siap untuk turut mengupayakan bagaimana struktur pengupahan (UMK) Jepara masih bisa dijangkau oleh pengusaha yang ada di Jepara,” imbuh Samiadji.

Hasil dari Jagong Bareng malam itu seperti memberikan kesegaran luar biasa bagi pelaku-pelaku industri mebel di Jepara, meski mereka juga menyadari bahwa ini semua menjadi agenda yang cukup berat untuk dilakukan. Tetapi dengan adanya kerjasama dan sinergitas semua pihak, mereka yakin bahwa semua masalah yang dihadapi akan mendapatkan solusinya.

Sayangnya, pucuk pimpinan eksekutif yakni Penjabat Bupati yang sangat diharapkan hadir ternyata berhalangan, dan ini membuat jajaran Pengurus HIMKI agak kecewa, karena dalam 2 kali audiensi yang diminta sebelumnya, Penjabat Bupati juga mendisposisikan kehadirannya. “Mudah-mudahan kita segera diberikan waktu oleh Pak PJ untuk bisa mendiskusikan banyak hal yang berkait dengan permebelan Jepara secara mendalam, karena ini adalah nafas hidup mayoritas masyarakat Jepara,” pungkas Suhandoyo, Ketua Umum HIMKI Jepara Raya diakhir acara.

Sumber: Yuli Kusdiyanto.

SP-JPR / Red.

Tags: ,